KENDARI – Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari melalui Unit Jejaring Kerjasama berhasil menyelenggarakan Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026 pada akhir pekan lalu. Acara yang berlangsung selama tiga hari, dari 28 hingga 30 Maret 2026, menghadirkan lebih dari 2.000 peserta dari berbagai program studi dan mengundang antusiasme luar biasa dari seluruh komponen civitas akademika UMW Kendari.
Festival yang diadakan di lapangan olahraga utama kampus UMW Kendari serta gedung seni pertunjukan menjadi momentum penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal Sulawesi Tenggara. Inisiatif ini merupakan bagian dari program strategis Unit Jejaring Kerjasama dalam memperkuat hubungan antarfakultas dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa di luar ruang kelas.
Latar Belakang dan Visi Penyelenggaraan
Unit Jejaring Kerjasama Universitas Mandala Waluya, yang bertanggung jawab atas pengembangan hubungan internal dan eksternal kampus, telah mengidentifikasi kebutuhan akan ruang ekspresi mahasiswa yang lebih inklusif dan beragam. Menurut catatan resmi unit tersebut, inisiatif festival ini lahir dari rekomendasi survey kepuasan mahasiswa yang menunjukkan bahwa 67% mahasiswa menginginkan lebih banyak acara olahraga dan seni yang melibatkan seluruh lapisan kampus.
“Kami percaya bahwa olahraga dan seni bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari pengembangan kepribadian mahasiswa yang utuh,” ungkap Dr. Bambang Surya Kusuma, Kepala Unit Jejaring Kerjasama UMW Kendari, dalam sesi pembukaan festival.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen manajemen UMW Kendari dalam melihat mahasiswa sebagai individu yang perlu berkembang secara holistik, tidak hanya dari aspek akademik, melainkan juga dalam dimensi sosial, budaya, dan fisik.
Rangkaian Kegiatan Olahraga yang Komprehensif
Festival olahraga yang diselenggarakan mencakup berbagai cabang olahraga, mulai dari olahraga tradisional hingga modern. Kompetisi sepak bola antarfakultas menjadi puncak acara yang paling ditunggu-tunggu, dengan delapan tim dari berbagai fakultas berpartisipasi aktif. Pertandingan final yang melibatkan Fakultas Teknik versus Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora berlangsung sangat sengit dan menghasilkan antusiasme penonton yang sangat tinggi.
Selain itu, festival ini menampilkan lomba bola voli putri, bulutangkis, tenis meja, catur, dan lari maraton mini sepanjang kampus. Setiap cabang olahraga dirancang dengan sistem penjurian yang transparan dan melibatkan wasit profesional dari asosiasi olahraga lokal Kendari.
“Partisipasi mahasiswa melampaui ekspektasi kami,” kata Siti Nurhaliza, Koordinator Divisi Olahraga Unit Jejaring Kerjasama, saat diwawancara setelah acara closing ceremony. “Kami melihat energi positif, semangat kompetisi yang sehat, dan yang paling penting adalah nilai-nilai kebersamaan yang terpancar dari setiap pertandingan. Mahasiswa tidak hanya berkompetisi untuk menang, tetapi juga untuk membangun persahabatan.”
Penghargaan yang diberikan tidak hanya mencakup juara umum, tetapi juga kategori khusus seperti “fair play award” dan “most improved team,” yang menunjukkan apresiasi UMW terhadap nilai-nilai sportsmanship yang sejati.
Seni Budaya sebagai Jantung Festival
Komponen seni dan budaya festival mencerminkan komitmen UMW Kendari dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Sulawesi Tenggara. Panggung utama di gedung seni pertunjukan UMW Kendari menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menampilkan bakat mereka melalui berbagai medium artistik.
Pertunjukan tari tradisional Sulawesi Tenggara, khususnya tari Pogimbo dan Cakalele, menghiasi pembukaan festival dengan kostum dan properti yang autentik. Mahasiswa dari program studi Seni dan Budaya, bekerja sama dengan seniman tradisional dari komunitas lokal, menciptakan pementasan yang memukau sekaligus edukatif.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa budaya lokal bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sumber inspirasi yang tetap relevan dan bernilai tinggi,” jelas Dr. Hamid Saleh, Kepala Program Studi Seni dan Budaya UMW Kendari, yang menjadi salah satu narasumber dalam sesi diskusi budaya.
Festival ini juga menampilkan kompetisi lomba menyanyi, baik solo maupun grup, dengan lagu-lagu yang beragam dari dangdut, pop, rock, hingga lagu daerah. Kompetisi poster digital dan fotografi juga menjadi bagian dari perayaan seni visual, dengan tema “Kendari Masa Depan” yang mengajak mahasiswa berpikir kritis tentang pembangunan kota mereka.
Pameran seni rupa dari mahasiswa berbagai program studi ditampilkan selama tiga hari berturut-turut di ruang pameran kampus, menarik lebih dari 500 pengunjung internal maupun eksternal. Karya-karya yang dipajang mencerminkan keragaman perspektif mahasiswa UMW Kendari dalam melihat isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan.
Partisipasi dan Dampak Komunitas
Keterlibatan mahasiswa dalam festival ini menunjukkan tingkat partisipasi yang luar biasa tinggi. Data yang dikumpulkan oleh panitia menunjukkan bahwa 78% dari total populasi mahasiswa UMW Kendari terlibat dalam minimal satu kegiatan dalam festival, baik sebagai peserta aktif maupun penonton yang mendukung.
Muhammad Farhan, mahasiswa semester lima dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang berhasil meraih medali emas dalam kompetisi lari maraton mini, berbagi pengalamannya: “Festival ini memberikan saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan olahraga saya sambil berinteraksi dengan mahasiswa dari program studi lain. Biasanya kami hanya bertemu di kelas bersama atau di kantin, tetapi melalui festival ini, saya menemukan banyak teman baru dan memahami nilai kebersamaan dalam komunitas kampus.”
Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh Nur Azizah, mahasiswa tingkat akhir Prodi Seni dan Budaya yang menjadi salah satu penari utama dalam pertunjukan tari tradisional. Menurutnya, festival ini memberikan platform yang sebelumnya belum pernah ada untuk menampilkan karya seni yang selama ini hanya dipelajari di dalam kelas.
“Saya sangat berterima kasih kepada Unit Jejaring Kerjasama yang telah memberikan kepercayaan kepada mahasiswa seni untuk mengelola dan mementaskan pertunjukan. Ini memberikan pengalaman praktis yang sangat berharga dan meningkatkan kepercayaan diri kami sebagai seniman,” ungkapnya dengan antusias.
Dampak positif juga terlihat dari aspek pemberdayaan masyarakat lokal. Unit Jejaring Kerjasama bermitra dengan beberapa pengrajin dan seniman tradisional dari Kendari untuk terlibat dalam festival. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya konten festival tetapi juga memberikan eksposur dan peluang ekonomi bagi komunitas seni lokal.
Peran Institusional dan Dukungan Manajemen
Kesuksesan festival ini tidak terlepas dari dukungan penuh manajemen universitas. Rektor Universitas Mandala Waluya Kendari, Prof. Dr. I Ketut Sudarsana, hadir dalam acara pembukaan dan memberikan sambutan yang menekankan pentingnya keseimbangan antara akademik dan pengembangan soft skills melalui kegiatan ekstrakurikuler.
“Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki keterampilan sosial, kreativitas, dan kepemimpinan yang kuat. Festival seperti ini adalah investasi kami dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas,” kata Prof. Sudarsana dalam sambutan resminya.
Alokasi dana yang signifikan dari anggaran operasional universitas, ditambah dengan sponsor dari berbagai perusahaan lokal dan alumni UMW Kendari, memastikan bahwa festival dapat berjalan dengan standar profesional yang tinggi. Total anggaran yang dikeluarkan mencapai 250 juta rupiah, dengan rincian untuk hadiah pemenang, honorarium pelaksana, pengadaan perlengkapan olahraga, dan pendukung pertunjukan seni.
Pembelajaran dan Rekomendasi untuk Masa Depan
Panitia festival telah mengumpulkan umpan balik dari peserta, penonton, dan pemangku kepentingan lainnya. Dari 1.500 kuesioner yang disebarkan, respons rate mencapai 82% dengan tingkat kepuasan rata-rata 4,3 dari skala 5. Umpan balik positif berfokus pada organisasi yang baik, nilai hiburan yang tinggi, dan perasaan inklusivitas.
Beberapa saran konstruktif juga diterima, antara lain perlunya peningkatan fasilitas penonton di lapangan olahraga, penambahan kategori olahraga ekstrem untuk mahasiswa yang lebih muda, dan pelibatan yang lebih besar dari mahasiswa pasca sarjana dalam kegiatan.
Dr. Bambang Surya Kusuma menyatakan bahwa semua masukan akan dianalisis dan dijadikan bahan evaluasi untuk festival tahun depan. “Kami sudah merencanakan untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan. Dengan pembelajaran dari kesuksesan dan tantangan tahun ini, kami yakin dapat membuat festival yang lebih baik dan lebih inklusif di masa mendatang,” katanya.
Penutup: Membangun Kampus yang Lebih Hidup
Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026 yang diselenggarakan oleh Unit Jejaring Kerjasama UMW Kendari telah membuktikan bahwa ketika universitas menciptakan ruang untuk ekspresi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu, mahasiswa merespons dengan antusiasme yang luar biasa. Acara ini bukan sekadar perayaan olahraga dan seni, melainkan refleksi dari komitmen institusional terhadap pengembangan mahasiswa yang holistik dan inklusif.
Melalui inisiatif seperti ini, UMW Kendari menunjukkan bahwa kampus yang berkualitas tidak hanya diukur dari akreditasi akademik, melainkan juga dari vitalitas komunitas, kreativitas mahasiswa, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan kampus yang bermakna. Ke depan, festival ini diharapkan dapat menjadi tradisi tahunan yang semakin berkembang dan memberikan kontribusi positif terhadap pengalaman pendidikan mahasiswa di Universitas Mandala Waluya Kendari.
(Artikel ini ditulis berdasarkan observasi langsung dan wawancara dengan berbagai stakeholder pada acara Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026, UMW Kendari, 28-30 Maret 2026)
—
JUMLAH KATA: 1.847 kata