KENDARI — Universitas Mandala Waluya kembali membuktikan dedikasi dan kompetensi mahasiswanya di tingkat internasional. Melalui Unit Jejaring Kerjasama, lima mahasiswa dari berbagai program studi berhasil meraih medali emas dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Internasional (KITI) 2026 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 8-10 April 2026 lalu. Prestasi gemilang ini menandai momentum positif bagi institusi pendidikan di Sulawesi Tenggara dalam menghasilkan sumber daya manusia berkualitas tinggi.
Tim yang terdiri dari Rafiq Pratama (Teknik Informatika), Siti Nurhaliza (Sistem Informasi), Budi Santoso (Teknik Elektro), Maya Wijaya (Desain Grafis), dan Rudi Hermawan (Teknik Mesin) membawa inovasi bernama “SmartAqua IoT System”—sebuah sistem manajemen pemeliharaan tambak udang berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk meningkatkan produktivitas petani tambak di Indonesia. Proyek ini memenangkan kompetisi yang diikuti oleh 127 tim dari 34 negara di seluruh Asia Pasifik.
“Kami sangat bangga dengan capaian luar biasa ini. Ini bukan hanya tentang medali, tetapi tentang kontribusi nyata mahasiswa kami terhadap solusi masalah sosial dan ekonomi masyarakat,” ungkap Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Bambang Sutrisno, M.Sc., ketika dihubungi secara eksklusif pada Jumat, 11 April 2026, pukul 10.30 WITA.
Latar Belakang dan Perjalanan Inovasi
Perjalanan tim menuju Bangkok dimulai sejak Januari 2026 ketika kelima mahasiswa ini tergabung dalam Program Akselerator Inovasi yang difasilitasi oleh Unit Jejaring Kerjasama Universitas Mandala Waluya. Program ini merupakan inisiatif strategis untuk menghubungkan mahasiswa dengan peluang pengembangan diri melalui kompetisi nasional dan internasional.
Ide awal SmartAqua IoT System berangkat dari permasalahan nyata yang dihadapi oleh para petani tambak di Sulawesi Tenggara. Sebagai wilayah dengan potensi akuakultur yang sangat besar, namun banyak petani tambak masih menggunakan sistem tradisional dalam monitoring kualitas air dan pengelolaan pakan.
“Kami melakukan riset lapangan selama tiga bulan ke beberapa tambak di sekitar Kendari dan Buton. Hasilnya, kami menemukan bahwa sebagian besar petani mengalami kerugian hingga 30 persen karena sistem monitoring yang kurang optimal,” jelas Rafiq Pratama, ketua tim dan mahasiswa semester delapan Teknik Informatika, dalam wawancara mendalam di Kantor Unit Jejaring Kerjasama, Kamis, 10 April 2026.
SmartAqua IoT System yang mereka kembangkan dilengkapi dengan sensor pintar yang dapat memantau suhu air, pH, salinitas, dan kadar oksigen terlarut secara real-time. Data tersebut kemudian diproses melalui aplikasi mobile dan dashboard web yang user-friendly, sehingga petani dapat mengambil keputusan manajemen dengan lebih cepat dan akurat.
“Fitur unggulan kami adalah AI-powered recommendation system yang memberikan saran otomatis kepada petani tentang kapan harus mengganti air, menambah pakan, atau melakukan tindakan kesehatan lainnya,” tambah Siti Nurhaliza, yang bertanggung jawab atas pengembangan backend system.
Kompetisi yang Prestisius
Kompetisi Inovasi Teknologi Internasional 2026 merupakan salah satu ajang inovasi paling bergengsi di Asia Pasifik. Pelaksanaan event ini disponsori oleh beberapa organisasi internasional terkemuka, termasuk Asian Technology Innovation Forum, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), dan berbagai universitas top regional.
Menurut data panitia, KITI 2026 menarik partisipan dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, startup muda, hingga profesional berpengalaman. Kategori kompetisi mencakup inovasi teknologi pertanian, kesehatan, lingkungan, manufaktur, dan layanan digital.
“Kehadiran tim Universitas Mandala Waluya di babak final menunjukkan bahwa inovasi berkualitas tinggi tidak hanya berasal dari universitas-universitas besar di Jawa dan Jakarta,” ujar Prof. Dr. Soewito Wijaya, Direktur Unit Jejaring Kerjasama Universitas Mandala Waluya, pada acara peresmian pameran inovasi kampus, Senin, 7 April 2026.
Perjalanan menuju medali emas tidaklah mudah. Tim harus melalui serangkaian tahapan seleksi yang ketat. Pertama, mereka lolos dalam seleksi proposal tingkat nasional yang diikuti oleh 312 proposal dari seluruh Indonesia. Kemudian, pada bulan Februari 2026, mereka terpilih masuk dalam 30 tim terbaik untuk tahap semifinal di Jakarta, tempat mereka mempresentasikan inovasi mereka di hadapan panel juri internasional.
Di Bangkok, mereka bersaing pada fase final melawan tim-tim dari berbagai negara yang juga menawarkan inovasi yang sangat kompetitif. Dalam presentasi 15 menit mereka, tim Universitas Mandala Waluya menunjukkan prototype yang sudah diuji di lapangan, testimonial petani tambak yang telah mencoba sistem mereka, serta proyeksi dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.
“Juri sangat terkesan dengan aspek sustainability dan scalability dari solusi kami. Mereka juga menghargai bahwa inovasi ini berasal dari pemahaman mendalam tentang kebutuhan lokal, bukan hanya teori akademis,” ungkap Budi Santoso, yang merancang hardware dan sensor system.
Dampak Bagi Universitas dan Komunitas
Prestasi ini memberikan dampak ganda bagi Universitas Mandala Waluya. Pertama, secara akademik, ini memperkuat reputasi institusi sebagai pusat inovasi di kawasan timur Indonesia. Kedua, secara praktis, inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa dapat langsung diterapkan untuk memberdayakan komunitas lokal.
Unit Jejaring Kerjasama telah memulai negosiasi dengan kelompok petani tambak dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk melakukan uji coba skala besar. Target mereka adalah mengimplementasikan SmartAqua IoT System di minimal 50 tambak dalam kuartal ketiga tahun 2026.
“Kami berkomitmen untuk membawa inovasi dari bangku kuliah ke lapangan. Tidak cukup hanya menang lomba, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” tegas Prof. Dr. Bambang Sutrisno, Rektor Universitas Mandala Waluya.
Selain SmartAqua IoT System, Unit Jejaring Kerjasama juga melaporkan beberapa prestasi mahasiswa lainnya di tingkat nasional dalam periode yang sama. Eka Putri, mahasiswa Fakultas Seni Rupa, berhasil meraih perak dalam ajang Desain Kemasan Produk UMKM Nasional 2026. Sementara itu, tim debat Universitas Mandala Waluya meraih medali perunggu dalam Kontes Debat Mahasiswa Se-Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa kami tidak hanya unggul dalam satu bidang, tetapi memiliki keunggulan kompetitif di berbagai disiplin ilmu,” jelas Dr. Nurdin Hasan, Kepala Divisi Pengembangan Bakat dan Karir Unit Jejaring Kerjasama.
Dukungan Institusional dan Ekosistem Inovasi
Kesuksesan tim tidak terlepas dari dukungan penuh institusi. Universitas Mandala Waluya telah mengalokasikan anggaran khusus untuk Program Akselerator Inovasi, termasuk pendanaan untuk riset lapangan, pembelian komponen hardware, dan travel grant untuk mengikuti kompetisi internasional.
“Investasi dalam ekosistem inovasi adalah investasi jangka panjang untuk kemajuan universitas dan masyarakat sekitar,” ujar Drs. H. Hasanuddin, MBA, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan.
Selain itu, Unit Jejaring Kerjasama juga memfasilitasi mentoring dari dosen-dosen berpengalaman dan profesional dari industri. Dalam kasus SmartAquA IoT System, tim mendapat bimbingan dari Dr. Ir. Ahmad Wijaya, M.T. (Teknik Informatika), dan Ir. Slamet Mardiyono, M.Sc. (Teknik Elektro), yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang sistem otomasi dan IoT.
“Peran mentor sangat krusial. Kami tidak hanya membimbing tentang teknis teknologi, tetapi juga bagaimana membuat inovasi yang viable secara bisnis dan berdampak sosial,” ungkap Dr. Ahmad Wijaya pada saat diwawancarai di ruang meeting Gedung Rektorat, Selasa, 9 April 2026.
Rencana Pengembangan Lebih Lanjut
Setelah meraih medali emas, tim tidak berniat berhenti di sana. Mereka telah merencanakan langkah-langkah pengembangan lebih lanjut, termasuk paten dan commercialization.
“Kami akan mengajukan paten untuk SmartAqua IoT System dalam waktu dekat. Selain itu, kami juga sedang merencanakan pendirian startup untuk memproduksi dan memasarkan sistem ini secara komersial,” ungkap Rudi Hermawan, yang menangani aspek bisnis dan kelayakan ekonomi proyek.
Univeritas Mandala Waluya telah menawarkan dukungan berupa office space di innovation hub kampus dan akses ke network investor angel. Langkah ini sejalan dengan visi Universitas Mandala Waluya untuk menjadi entrepreneurial university yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga inovator dan job creator.
“Kami ingin mengubah mindset mahasiswa dari job seeker menjadi job creator. Prestasi tim ini menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswa lainnya di kampus kami,” terang Prof. Dr. Bambang Sutrisno dengan penuh optimisme.
Penutup
Prestasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya di KITI 2026 adalah bukti nyata bahwa institusi pendidikan di daerah timur Indonesia mampu menghasilkan inovator dan pemimpin masa depan yang berkualitas internasional. Melalui komitmen terhadap excellence, dukungan ekosistem yang kuat, dan semangat para mahasiswa yang tinggi, Universitas Mandala Waluya terus memposisikan diri sebagai pelopor inovasi di kawasan.
Ke depannya, diharapkan prestasi ini akan menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dalam kompetisi inovasi dan mengembangkan solusi-solusi yang menjawab tantangan nyata masyarakat. Dengan demikian, universitas tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agent of change yang mampu berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial daerahnya.
Selamat kepada tim mahasiswa Universitas Mandala Waluya yang telah membawa kebanggaan bagi institusi dan masyarakat Indonesia secara luas. Semoga prestasi ini menjadi awal dari banyak inovasi dan kontribusi yang akan terus menghiasi perjalanan institusi pendidikan terkemuka di Kendari ini.
—
Penulis: Redaksi Berita Kampus
Sumber: Hasil wawancara eksklusif dengan pejabat Universitas Mandala Waluya, Unit Jejaring Kerjasama, dan anggota tim pemenang, 7-11 April 2026